Selasa, 16 Januari 2018

SISTEM MANAJEMEN DALAM ORGANISASI FORUM GURU

Secara terminologi, sistem dipakai dalam berbagai macam cara yang luas sehingga sangat sulit untuk mendefinisikan atau mengartikannya sebagai suatu pernyataan yang merangkum seluruh penggunaannya dan yang cukup ringkas untuk dapat memenuhi apa yang menjadi maksudnya Hal tersebut disebabkan bahwa pengertian sistem itu bergantung dari latar belakang mengenai cara pandang orang yang mencoba untuk mendefinisikannya. Semisal, menurut hukum bahwa Sistem dipandang sebagai suatu kumpulan aturan-aturan yang membatasi, baik dari kapasitas sistem itu sendiri maupun lingkungan dimana sistem itu sedang berada untuk memberikan jaminan keadilan dan keserasian. Sedangkan managemen yaitu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengendalian / pengawasan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan melalui pemanfaatan SDM dan sumber daya lainnya. Jadi sistem manajemen dalam organisasi forum guru  merupakan suatu jaringan dari beberapa prosedur yang saling memiliki keterkaitan satu sama lain berdasarkan pola atau skema yang bulat sebagai serangkaian proses untk merencanakan, mengorganisasikan, menggerakan atau mengendalikan/ mengawasi usaha agar tercapai suatu tujuan secara efektif dan efisien. Dan sukses tidaknya seorang pemimpin melaksanakan tugas kepemimpinannya,  tidak  terutama   ditentukan  oleh  tingkat keterampilan tehnis (technical skills) yang dimiliknya, akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh keahliannya menggerakkan orang lain untuk bekerja dengan baik (managerial skills).

ORGANISASI SEMI VIRTUAL DALAM MENYONGSONG GENERASI EMAS 2025

ORGANISASI SEMI VIRTUAL DALAM MENYONGSONG GENERASI EMAS 2025 “Think Globally Act Locally”

Di era globalisasi seperti sekarang ini, kehadiran Forum Guru  sangat penting perannya sebagai “wadah” pemersatu guru IPS seluruh Indonesia. Kehadiran Forum Guru IPS Seluruh Indonesia (FOGIPSI) yang memiliki legalitas formal dengan sk kemenkumham  Nomor AHU-0044226.AH.01.07 tahun 2016 ditetapkan di Jakarta 11 april 2016. FOGIPSI  sebagai forum guru IPS yang telah disaksikan pengukuhannya oleh mantan Dirjen GTK kemendikbud Bapak Sumarna supranata beserta staff GTK di gedung kemendikbud pada bulan januari 2017 ini diharapkan menjadi sarana memperoleh kecepatan informasi dan komunikasi serta peningkatan profesionalisme antara sesama pengurus dan anggotanya baik pengurus pusat, pengurus wilayah maupun pengurus kota atau kabupaten. yang akan menjaga dan melestarikan budaya lokal sebagai landasan dalam menghadapi era digital, era globalisasi dan implementasi kecakapan abad 21.

Melalui FOGIPSI ini juga diharapkan para anggota dapat saling bertemu, belajar dan berbagi pengalaman tentang pembelajaran IPS di sekolah masing-masing, dengan motto "Membangun (3K): Konektifitas, Komitmen dan Kompetensi",
Dengan visi “menjadi wadah pemersatu guru IPS seluruh Indonesia yang sinergis kompeten, komitmen, dan konektifitas tahun 2025” adapun misi FOGIPSI  yaitu Membangun jejaring guru IPS seluruh Indonesia melalui lembaga profesi tingkat pusat sampai daerah, melalui sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi; meningkatkan kompetensi guru melalui diklat berkelanjutan berskala pusat dan daerah dan membangun komitmen atas dasar profesionalisme dan jiwa NKRI.

Fogipsi Sebagai organisasi “semi virtual “Sasaran kegiatan utama fogipsi adalah 1)  Menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), Training Of  Trainer (TOT),  Workshop, Seminar, 2)Membangun Network dengan forum MGMP IPS seluruh Indonesia, Dinas Pendidikan setempat, LPMP, P4TK IPS dan Direktorat teknis Kemdikbud, serta membangun konektivitas denagn luar negeri 3)Memperjuangkan Laboraturium IPS disetiap sekolah SMP/MTs untuk memfasilitasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, 4)Mengadakan kegiatan Karya Ilmiah, Karya Inovatif dan Publikasi Ilmiah dalam bentuk Buku atau Jurnal, 5) Mengadakan kegiatan peningkatan mutu pendidikan  Siswa/Guru yang kreatif, Inovatif, Inspriratif dan Kompetitif.

Tujuan berdirinya forum ini Menciptakan konektifitas seluruh guru IPS di Wilayah Indonesia, memelihara dan mengembangkan potensi – potensi yang dimiliki oleh guru, peserta didik dan masyarakat dalam menyongsong generasi emas 2025 serta menciptakan masyarakat yang sejahtera; menggalang potensi untuk memberikan kontribusi pada pembangunan baik yang bersifat Sumber Daya Manusia maupun infrastrukur dalam mengembangkan pembelajaran IPS  masing – masing daerah di seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dikatakan organisasi semi virtual karena dalam berdiskusi untuk saling berbagi, yamg terwujud dalam bentuk pengembangan diri,  untuk saling membangun yang kemudian memunculkan ide-ide atau gagasan yang be inspiring, be creating and be inovating yg terwujud dalam sebuah karya-karya ilmiah sebagian melalui media sosial.
Fogipsi memberikan kesempatan kepada siapapun guru untuk ikut seminar, diklat, workshop tanpa memandang jabatan. FOGIPSI pun terus tumbuh dan berkembang bersama jaringan media sosial seperti milis, facebook, blog, whatapps, telegram, Vicom, kelas maya serta messengger dan sebagainya sehingga FOGIPSI menjadi wadah guru untuk berdiskusi, berbagi dan saling menumbuhkembangkan potensi yang dimilki. Kini wadahnya semakin tak terbatas oleh ruang dan waktu, kemudian FOGIPSI lahir dimana-mana, lahir dari bawah, lahir dari hati sanubari guru-guru Indonesia. Oase yang dulu kecil itu, kini telah berubah menjadi danau yang luas bahkan mungkin sudah mulai menjadi lautan luas. Harapan pun semakin besar bahkan FOGIPSI diharapkan bisa menuntaskan dan memperjuangkan semua masalah yang dihadapi oleh guru –guru terutama di daerah 3T yang sangat kekurangan fasilitas atau sarana pra sarana mengajar. 

Konseptor FOGIPSI sejak lahir menasbihkan diri sebagai organisasi profesi guru yang konsen pada peningkatan kompetensi guru dan dapat menginspirasi guru-guru lainnya untuk bergerak maju demi pendidikan serta  membangun kekuatan yang akan mengembalikan martabat dan kesejahteraan guru serta memajukan pendidikan dan peningkatan kualitas moral intelektual guru.

Jumat, 08 Desember 2017

MATA UANG VIRTUAL vs UU_COMMERCE


MATA UANG VIRTUAL VS UU e_COMMERCE

Salah satu mata uang virtual bitcoin sudah diperkanalkan  sejak  2009, mata uang unik ini mulai digunakan oleh sebagian pelaku e-commerce di dunia. 

BitCoin adalah sebuah mata uang virtual yang dapat digunakan untuk bertransaksi online. Bentuk mata uang bitcoin tidak seperti mata uang yang bentuk fisiknya seperti uang kartal atau logam. Bentuk dari mata uang unik ini adalah hanya sebuah file layaknya file-file umum biasa.
File tersebut merupakan enskripsi dari kode-kode unik yang menjadikannya tak sama satu dengan yang lain. Dan seperti file mp3 atau word yang terdapat pada perangkat komputer. File BitCoin juga dapat disimpan dalam komputer atau sebuah flash disk atau software yang dinamakan BitCoin Digital Wallet. Selain itu BitCoin juga dapat di simpan di jasa penyimpanan BitCoin di Internet yang berbentuk layaknya sosial cloud.

Bitcoin ini merupakan penemuam seorang ahli komputer Satoshi Nakamoto asal Jepang mengembangkan BitCoin sejak tahun 2007 dan akhirnya menyebar hingga saat ini. satoshi  mencoba mengembangkan sistem mata uang virtual model baru yang sama sekali tidak terikat oleh pihak pemerintah atau lembaga keuangan lainnya. 
Mata uang BitCoin memang merupakan hasil dari perkembangan dunia teknologi ecommerce yang tumbuh terlalu massif.
Namun ada beberapa ahli yang menyatakan bahwa sang penemu tersebut adalah nama fiktif dan tidak ada secara nyata orang dengan nama tersebut. Ada sebagian ahli yang menyatakan bahwa mata uang BitCoin merupakan sesuatu yang dibuat oleh seseorang atau kelompok orang yang memang ingin membuat persepsi baru dalam dunia transaksi online. Dan tujuan utamanya tentu saja untuk mengambil keuntungan.

Saat ini BitCoin sudah tersebar hampir di seluruh penjuru dunia.  Cina dan singapura menolak penggunaan mata uang BitCoin sebagai alat transaksi online yang sah  karena sifatnya yang tidak aman.
Di Indonesia  Bank Indonesia selaku bank central  pun secara tegas melarang perbankan dan lembaga jasa keuangan lainnya memproses transaksi keuangan yang menggunakan sistem pembayaran mata uang virtual (virtual currency), dalam hal ini Bitcoin karena melanggar undang_undang. Dalam UU yang terkat dengan mata uang, hanya rupiah yang diakui sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia. Dengan demikian keberadaan mata uang virtual tidak diakui dan transaksi yang menggunakannya dianggap ilegal. Masyarakat dilarang untuk memproses, baik bank dan (lembaga keuangan) lainnya dari adanya (transaksi) virtual currency.

Mengenai nilai BitCoin, jika di-kurs-kan dengan nilai dolas AS, beberapa pihak menyatakan bahwa saat ini nilai 1 BitCoin atau 1B (symbol BitCoin) senilai dengan $195 dolar. Namun nilai tersebut akan terus berubah sesuai dengan keberadaan jumlah BitCoin yang ada saat ini. Hingga saat ini diperkirakan sudah terdapat 21 juta BitCoin yang bertambah 25 BitCoin permenitnya diseluruh dunia.

Namun kenyataaanya  masyarakat yang menggunakan Bitcoin cukup banyak maka Bank indonesia  selaku regulator sendiri telah melarang masyarakat agar tidak berinvestasi dengan mata uang digital, namun memilih produk investasi lain yang lebih sehat dan dijamin.
Belum ada izin peredaran Bitcoi.di indonesia.  masyarakat khususnya investor menghendaki keinginan Bitcoin agar bisa diperlakukan sebagai komoditas, seperti emas.
Diijinkan atau tidaknya mata uang digital dan investasi dalam mata uang bitcoin merupakan wewenang Bank Indonesia dan otorotas jasa keuangan laimnya. Melihat kenyataan bahwa mata uang digital atau virtual bukan suatu mata uang yang terpercaya terhadap mata uang yang formal di Indonesia.
Hal ini perlu ditegaskan pemerintah atau .OJK adalah menegaskan  apakah badan atau produk mata uang digital memang aman bagi investasi bagi masyarakat dan tidak merugikan masyarakat?

Salah satu  CEO Bitcoin Indonesia pun menyadari bahwa  memang mata uang digital belum memiliki aturan di Indonesia.
Kesalahan mengapa mata uang digital marak diperjual belikan  CEO Bitcoin  karena tidak ada laramgan memgenai cryptocurrency (mata uang digital), kecuali pengganti alat pembayaran. PJSP (Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran) dilarang memproses bitcoin sebagai alat transaksi pembayaran.

Alasan CEO  Bitcoim digunakan karenabitcoin seperti emas dan  nilainya sama-sama nol, suplainya terbatas, ada kegunaannya, tercipta sebuah harga.
Selain itu bitcoin jadi sarana untuk mencari capital gain(margin keuntungan).

Kelebihan dari BitCoin sebagai alat pembayaran adalah
1. sifatnya yang simple dan ringkas.
2. BitCoin merupakan alat transaksi orang per orang dan hanya orang yang memegangnya yang bisa menggunakannya.
3.  dalam pengunaan tidak  perlu menyertakan informasi pribadinya seperti pada mata uang bank atau akun transaksi online lain.
4. Tidak perlu informasi dari pemilik bitcoin

Sedangkan Kelemahan bitcoin:
1. bentuknya yang hanya berupa file, memungkinkan BitCoin menjadi rusak/ hilang/ terhapus jika terjadi sesuatu dengan perangkat tempat kita menyimpan BitCoin tersebut.
2.bitcoin karena penggunaan Bitcoin  diklaim berpotensi digunakan dalam tindak kejahatan, seperti melakukan pembelian kartu kredit milik orang.
3.  BitCoin merupakan sebuah alat transaksi yang hadir karena ada kemauan dan kepercayaan dari para penggunaya. Hal ini memungkinkan suatu saat BitCoin bisa benar-benar tidak bernilai karena sudah tidak ada yang mau menggunakan mata uang tersebut.

Rabu, 06 Desember 2017

KENDALA DAN SOLUSI SISTEM MANAJEMEN PADA ORGANISASI VIRTUAL

Secara terminologi, sistem dipakai dalam berbagai macam cara yang luas sehingga sangat sulit untuk mendefinisikan atau mengartikannya sebagai suatu pernyataan yang merangkum seluruh penggunaannya dan yang cukup ringkas untuk dapat memenuhi apa yang menjadi maksudnya. Hal tersebut disebabkan bahwa pengertian sistem itu bergantung dari latar belakang mengenai cara pandang orang yang mencoba untuk mendefinisikannya. Semisal, menurut ekonomi bahwa Sistem dipandang sebagai suatu cara yang ditempuh untuk mengatur orang / kelompok tertentu agar tujuan tercapai  secara efektif dan efisien.

Sedangkan managemen yaitu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengendalian / pengawasan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan melalui pemanfaatan SDM dan sumber daya lainnya. Jadi sistem manajemen dalam organisasi forum guru merupakan suatu jaringan dari beberapa prosedur yang saling memiliki keterkaitan satu sama lain berdasarkan pola atau skema yang bulat sebagai serangkaian proses untk merencanakan, mengorganisasikan, menggerakan atau mengendalikan/ mengawasi usaha agar tercapai suatu tujuan secara efektif dan efisien. Dan sukses tidaknya seorang pemimpin organisasi dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya, tidak terutama ditentukan oleh tingkat keterampilan tehnis (technical skills) yang dimiliknya, akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh keahliannya menggerakkan orang lain untuk bekerja dengan baik (managerial skills).

Adapun kendala_kendala dalam organisasi virtual:
1. Sulitnya musyawarah yang dilakukan secara langsung.
Dalam menjalankan organisasi virtual dan tanpa batas tidak dipungkiri memiliki kelemahan yaitu sulitnya dilakukan musyawarah yang dilakukan secara langsung, jikapun seringkali dilakukan dengan menggunakan media online sperti Whatapps atau messenger atau telegram namun tidak semua dapat berjalamn secara efektif dan efisien mengingat tidak semua online pada saat yang bersamaan, namun untuk mengatasi hal tersebut orgnaisai virtual mengedepankan pemberitahuan info awal terlebih dahulu untuk  adakan suatu pertemuan dengan menentukan  hari dan waktu (jam) untuk melakukan koordinasi.
Cara pertama bisa dilakukan dengan videoconferencing atau dengan telepon conference.Video conferensing memungkinkan para anggota dan para klien untuk melaksanakan pertemuam secara real time dengan orang-orang di lokai-lokasi berbeda. Live audio atau videoimage memungkinkan kita untuk melihat, mendengar dan berbicara dengan orang lain tanpa hadir secar fisik pada lokasi yang sama.
Cara lain adalah menggunakan Telepon namun cederung diabaikan efesiensinya  sebagai model komunikasi efektif. Komunikasi melalui telepon dapat dimodifikasi menjadi telepon conferense menawarkan banyak manfaat dari pada komunikasi grup via messege. Telepon menawarkan banyak keuntungan seperti untuk melakukan atau pertemuan untuk membahas tentang kerja organisasi. Komunikasi memalui telepon waktunya cepat dan lebih sedikit ambiguitasnya dari pada email. Namun pesan melalui telepon lebih mudah terbaikan.

2. Kurangnya hubungan sosial dan interaksi langsung sesama para anggota.
Hubungan sosial atau interaksi langsung tidak harus dilakukan dengan tatap muka, tim organisasi yang digambarkan dalam pembahasan sebelumnya melakukan pekerjaan dengan bertatapan muka. Namun untuk tim organisasi virtual atau tim tanpa batas menggunakan teknologi komputer untuk mempersatukan secara fisik anggota yang tersebar untuk mencapai tujuan umum. Mereka berkolaborasi secara online-dengan menggunakan link komunikasi seperti jaringan area luas,vidioconference ,atau email, apakah mereka berbeda ruangan atau terpisah dalam antar benua. Tim  organisasi virtual sangat luas dan teknologi telah mengalami kemajuan sejauh ini, mungkin sedikit tidak cocok untuk menyebutkanya dengan istilah ‘virtual’. Hampir seluruh tim saat ini melakukan setidaknya beberapa dari pekerjaan mereka melakukan interaksi jarak jauh melalui komunikasi via online.
Alih-alih lebih melebar luas, adakalanya tim virtual menghadapi tantangan –tantangan khusus. Mereka menderita karena kurangnya hubungan sosial dan interaksi langsung diantara para anggota, menyisakan perasaan terisolasi, salah satu kajian menunjukan bahwa para pemimpin tim dapat mengurangi perasaan terisolasi, namun, dengan sering dan secara konsisten berkomunikasi dengan para anggota tim sehingga tidak ada seorang pun yang merasakan keterasingan yang tidak menyenangkan. Selain itu, bukti dari 94 studi yang melibatkan lebih dari 5.000 kelompok menemukan bahwa tim virtual lebih memilih berbagi informasi secara unik, informasi yang dilakukan oleh para anggota induvidu, bukan pada keseluruhan kelompokan, tetapi mereka cenderung untuk berbagi sedikit informasi dari keseluruhan. Sebagai hasilnya, level virtualitas yang rendah dalam tim menghasilkan level pembagian informasi yang lebih tinggi, tetapi level virtualitas yang tinggi menghalanginya. Agar tim virtual menjadi efektif, manajemen harus memastikan bahwa (1) kepercayaan tercipta di antara para anggota (salah satu isu yang bersifat menghasut dalam e – mail akan sangat merusak kepercayaan tim) , (2) perkembangan tim akan dimonitor dengan teliti (sehingga tim tadak kehilangan pandangan mengenai tujuannya dan tidak ada anggota tim yang “menghilang’’), serta (3) upaya dan produk tim dipublikasikan di seluruh organisasikan (sehingga tim tidak menjadi tidak terlihat).

3. Adanya perbedaan tujuan dan kepentingan masing-masing individu.
Dalam setiap organisasi memiliki dua dimensi yaitu dimensi monotetis dan idiografis dimana kedua dimensi tujuan harus diseimbangkan, diselaraskan untuk suatu keharmonisan dalam mencapai tujuan. Salah satu cara untuk meminimalisir tujuan individu adalah dengan menetapkan kebijakan atau sistem untuk mengatur pelaku organisasi. Jadi jika tujuan individu diutamakan oleh para bawahan maka mereka akan terkena sistem atau aturan yang mengikat sehingga jika melanggar akan terkena sanksi dari aturan yang ditetapkan.

4. Munculnya konflik dalam komunikasi lateral.
Ketika komunikasi terjadi diantara para anggota dari kelompok kerja yang sama, para anggota dari kelompok kerja pada level yang sama, para manajer pada level yang sama atau beberapa pekerjs yang setara secara horizontal lainnya dapat disebut sebagai komunikasi lateral. Komunikasi lateral menghemat waktu dan mengfasilitasi koordinasi. Beberapa hubungan lateral secara resmi diizinkan. Seringkali  secara informal menciptakan sirkuit hierarki secara vertikal dan mempercepat tindakan. Jadi dari sudut pandang manajemen, komunikasi lateral dapat menjadi baik dan buruk. Oleh karena berpegang dengan ketat pada struktur vertikal yang resmi untuk seluruh komunikasi dapat menjadi tidak efisien, maka komunikasi lateral yang terjadi dengan pengetahua manajemen dan dukungan dapat menguntungkan. Tetapi hal ini dapat menciptaka konflik-konflik disfungsional ketika alur vertikal yang resmi telah dilanggar, ketika para anggota langsung bicara ke atasan atau di sekitar atasannya untuk menyelesaikan segala sesuatunya, atau ketika para pemimpin  mendapati adanya tindakan –tindakan yang telah dilakukan atau keputusan-keputusan yang telah diambil tanpa sepengetahuan anggota.

5. Sulitnya mengubah individu menjadi satu tim yang aktif.
Organisasi dapat melakukan suatu tindakan untuk meningkatkan efektifitas tim, untuk mengubah kontributir kedalam anggota tim, ada beberapa  cara bagaimana para pemimpin untuk mengubah para individu menjadi satu tim:
1) Pemilihan :Merekrut para anggota yang aktif dan kreatif untuk tim leader, 2) pelatihan: menciptakan para anggota yang solid dengan bimbingan untuk para anggotanya, 3) pemberian imbalan : menyediakan insentif agar menjadi seorang tim yang baik.

Pengembangan Pendidikan untuk peningkatan kompetensi Sekaligus Sebagai Salah Satu Penunjang Pertumbuhan Ekonomi Nasional


Pengembangan untuk peningkatan kompetensi melalui pendidikan dapat dikatakan Investasi sumber daya manusia. Investasi sumber daya manusia adalah sejumlah dana yang dikeluarkan dengan harapan memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan selama proses investasi. Penghasilan selama poses investasi ini sebagai imbalannya dan diharapkan memperoleh tingkat penghasilan yang lebih tinggi untuk mampu mencapai tingkat konsumsi yang lebih tinggi pula. Investasi demikian disebut pula Human capital (payaman J Simanjuntak, 1985). Istilah modal manusia (human capital) ini dikenal sejak tiga tahun yang lalu ketika Gary S.Becker. Setelah Theodore W. Schuly dan ekonomi lain mulai membahas dampak investasi sumber daya manusia bagi pertumbuhan ekonomi maka para ekonom memperhatikan tingkat produktivitas, terutama setelah munculnya Gary S. Becker dengan analisinya mengenai Human Capital (Warsito Jati, 2002).

Para penganut teori human capital berpendapat bahwa pendidikan adalah sebagai investasi sumber daya manusia yang memberi manfaat moneter ataupun non-moneter. Manfaat non-meneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya. (Walter W. McMahon dan Terry G. Geske, Financing Education: Overcoming Inefficiency and Inequity, USA: University of Illionis, 1982, h.121).

Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Hal ini dikarenakan telah dikuasainya keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi oleh sumber daya manusianya sehingga pemerintah lebih mudah dalam menggerakkan pembangunan nasional.

Pendidikan memiliki peran yang dinamis. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pendidikan memberikan manfaat yang besar sekali bagi negara yaitu peranannya dalam menyiapkan sumber daya manusia. Pendidikan merupakan investasi bagi manusia. Sebagai suatu investasi pendidikan harus dilakukan secara dinamis berkelanjutan. Dengan adanya investasi dalam pendidikan memungkinkan diperolehnya keuntungan yang tinggi, yaitu diperolehnya sejumlah sumber daya manusia yang berkualitas yang diperlukan untuk kepentingan pembangunan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, sebagai sebuah investasi pendidikan merupakan komoditi dalam pandangan ekonomi. Hal ini menempatkan bahwa penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan keahlian yang dihasilkan dan dimiliki oleh individu-individu dapat diukur dari sisi nilai-nilai ekonomi yang dapat dikembalikan dalam jangka waktu tertentu melalui jenis ekerjaan yang bisa didapatkan dengan tingkat kompetensi yang dimiliki dan latar belakang pendidikan yang dijalani. Pendidikan ditempatkan sebagai jaminan dalam meningkatkan kehidupan yang baik dalam kehidupan kemasyarakatan sebagai individu dan bagian dari masyarakat yang lebih luas.

Robert M. Solow menekankan kepada peranan ilmu pengetahuan dan investasi modal sumber daya manusia dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dari teori Solow ini kemudian dikembangkan teori baru pertumbuhan ekonomi yang dikenal sebagai The New Growth Theory (H.A.R Tilaar, 2000).

Beberapa faktor yang menyebabkan tingkat pendidikan perlu dikembangkan didalam usaha untuk membangun suatu perekonomian adalah:

1. Pendidikan yang lebih tinggi memperluas pengetahuan masyarakat dan mempertinggi rasionalitas pemikiran mereka. Hal ini memungkinkan masyarakat mengambil langkah yang lebih rasional dalam bertindak atau mengambil keputusan.

2. Pendidikan memungkinkan masyarakat mempelajari pengetahuan-pengetahuan teknis yang diperlukan untuk memimpin dan menjalankan perusahaan-perusahaan modern dan kegiatan –kegiatan modern lainnya.

3. Pengetahuan yang lebih baik yang diperoleh dari pendidikan menjadi perangsang untyk menciptakan pembaharuan-pembaharuan dalam bidang teknik, ekonomi dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat lainnya.

Dengan demikian tingkat pendidikan yang lebih timggi akan dapat menjamin perbaikan yang terus berlangsung dalam tingkat teknologi yang digunakan masyarakat.

Pendidikan Gratis Memicu Kualitas pendidikan Rendah

Program UNESCO ( EFA ) Gerakan Pendidikan untuk Semua (Education for all) adalah komitmen global untuk menyediakan pendidikan dasar yang berkualitas bagi semua anak, remaja dan dewasa.  Berdasarkan mandat UNESCO tujuan EFA diantaranya: “Provide free and compulsory primary education for all” (memberikan pendidikan dasar kepada semua secara gratis) dan “ Improve the quality of education “(meningkatkan semua aspek kualitas pendidikan). Dalam hal ini pengetahuan memang harus gratis tetapi harus didukung dengan kualitas pendidikan. Pengertian kualitas  dapat dilihat juga dari konsep secara absolut dan relatif (Edward & Sallis, 1993, dalam Nurkolis, 2003: 67; Daniel C. Kambey, 2004:10-12). Dalam konsep absolut bila diterapkan dalam dunia pendidikan konsep kualitas absolut ini bersifat elitis karena hanya sedikit lembaga pendidikan yang akan mampu menawarkan kualitas tertinggi kepada peserta didik dan hanya sedikit peserta didik yang akan mampu membayarnya.  
Berpijak pada program EFA,  pemerintah mencanangkan pogram wajib belajar 12 tahun gratis untuk pendidikan dasar yakni dari SD hingga SMP. Pemerintah mengalirkan dana BOS untuk sekolah-sekolah Negeri yang digratiskan. Dana tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan siswa disekolah. Anggaran pendidikan untuk sekolah gratis ini pun tidak main-main. Angkanya bisa mencapai milyaran rupiah. Namun, apakah dengan jaminan  sekolah gratis dapat menjamin fasilitas, sarana/prasarana dan cara mengajar guru tetap sama? Apakah menjamin jika sekolah gratis akan menghasilkan kualitas yang baik ? ataukah hanya sekedar menghasilkan kuantitas karena program sekolah gratis dapat mengurangi angka putus sekolah atau tidak sekolah. Pertanyaan itu selalu muncul di benak para pendidik.
Pemerintah sebaiknya dalam mengeluarkan kebijakan, agaknya lebih dahulu melakukan berbagai pertimbangan. Seperti kebijakan sekolah gratis ini dirasa perlu pendalaman dan observasi untuk dikaji lebih jauh tentang baik tidaknya kebijakan ini diterapkan, kebijakan sekolah gratis ini seakan dipaksakan  dan bermuatan politis. Dampak lain dari kebijakan ini adalah pemenuhan unsur penunjang sarana/prasarana yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran. Dengan adanya kebijakan sekolah gratis ini bagaimana untuk pemenuhan unsur penunjang sarana /prasarana agar maksimal? Dampak kebijakan ini memang polemik sekali. Diuntungkan tapi dirugikan juga, Ruginya jika sekolah memungut biaya untuk unsur penunjang sarpras, isu tak sedap menyebar apalagi sampai terdengar LSM.
Menurut Carl D. Glickman (2012:65), lingkungan  sekolah  yang atmosfernya kondusif, sangat memungkinkan sekolah berkembang kearah kualitas yang lebih baik dari kondisinya yang ada. Sedangkan untuk kualitas pendidikan  dibutuhkan keterlibatan orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk membiayai pendidikan seperti sarana prasarana yang menunjang agar ruang kelas menjadi nyaman dan kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan optimal. Untuk menunjang kualitas/mutu sekolah, Pemerintah harus segera mengevaluasi kebijakan sekolah gratis dan memperbaikinya disana sini terutama untuk kualitas pendidikan. Sehingga perwujudan sekolah gratis bener-benar terwujud dan menghasilkan kualitas yang optimal. Selain itu dari sebuah keputusan yang besar seperti “Kebijakan Sekolah Gratis” tersebut mampu memberikan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia, tetapi dapat juga memberikan dampak negatif dari adanya penetapan kebijakan tersebut, antara lain menimbulkan sebagian peseerta didik berlaku seenaknya dalam hal belajar ataupun pembiayaan dan  apabila sekolah membutuhkan dana untuk keperluan pengadaan peralatan yang mendadak akan keteteran.
Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 75/2016 tentang Komite Sekolah. Permendikbud itu terbit untuk merevitalisasi peran dan fungsi komite sekolah agar dapat menerapkan prinsip gotong royong, demokrasi, mandiri, profesional, dan akuntabel. Dapat ditarik kesimpulan dan menilai bahwa sekolah tidak mutlak  gratis, artinya dapat menarik sumbangan/iuran dari para komite sekolah, atau komunitas kelas yang beranggotakan walimurid demi mencapai kualitas yang diharapkan.
Di negara Belanda dan Jerman, sekolah pun berbayar. Intinya  sekolah gratis hanya berlaku untuk orang yang tidak mampu bila perlu disantuni. Namun harus selektif dalam memilih siapa yang perlu digratisi mengingat beberapa kasus terjadi kalangan menengah pun menerima bantuan gratis. Ironisnya sangsi apabila ada anak dari seorang pejabat yang meminta untuk digratiskan biaya sekolahnya, akhirnya sekolah gratis bukan menjadikan SDM yang berkualitas namun bisa berpotensi merusak pendidikan. Disnyalir juga sekolah gratis berpotensi menyebabkan tidak ada pengelolaan yang serius dan kualitas  pendidikan di Indonesia masih minim. Semestinya kebijakan pendidikan sekolah gratis diberlakukan untuk golongan keluarga yang benar-benar tidak mampu saja, tidak berlaku untuk golongan menengah ke atas. Sehingga pungutan atau sumbangan atau iuran dari golongan menengah ke atas dapat menutupi biaya unsur penunjang sarana/ prasarana di sekolah, dengan kata lain subsidi silang. Untuk itu, perlu perubahan dan pembenahan serentak (Muhadjir Effendy dalam Nasional.Tempo.co 06/06/2017).
Padahal dalam undang-undang diamanatkan bahwa pendanaan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat yang harus  ikut menyukseskan pendidikan yang bermutu dan terjangkau. Akhir tulisan ini sedikit memberi simpulan bahwa hakekatnya pendidikan gratis bukan hanya kewajiban negara akan tetapi seluruh rakyat Indonesia berkewajiban menyelenggarakan pendidikan gratis demi kelangsungan generasi penerus yang berkualitas. Sebagaimana disebutkan dalam Bab III Pasal 4 poin 6 Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat, dengan kata lain yang kaya harus membantu yang tidak mampu bukannya ikut--ikutan ingin gratis.

Selasa, 11 Juli 2017

CARA MENGEMBANGKAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

 CARA MENGEMBANGKAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SEKOLAH
Ingatkah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ? 
Dalam Undang-undang tersebut dikemukakan bahwa pendidikan Indonesia bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang (1) beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) sehat, (4) berilmu, (5) cakap, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) menjadi warga negara yang demokratis, dan (9) bertanggung jawab.

Persoalan karakter memang cukup ‘mengakar’ dalam dunia pendidikan, hingga pemerintah memberlakukan  Semboyan kurikulum 2013 adalah ‘Pendidikan Karakter’.
Terdapat beberapa cara untuk mengembangkan pendidikan karakter di sekolah, yaitu :
1.Memajang gambar-gambar para tokoh inspiratif di aula sekolah dan ruang-ruang kelas.
2.Membuat program penghargaan untuk mengapresiasi berbagai hal yang membanggakan, selain prestasi akademis, olahraga atau kesenian.
3.Membuat pedoman perilaku di kelas dan sekolah yang disetujui oleh para siswa dan guru.
4.Mengundang para orangtua siswa untuk mengamati dan berkontribusi terhadap kemajuan kelas atau sekolah.
5.Meminta siswa mengungkapkan tokoh idola yang bersifat personal dan tanyakan mengapa tokoh itu menjadi idola siswa yang bersangkutan.
6.Memimpin para siswa dengan keteladanan.
7.Jangan biarkan berbagai bentuk ketidaksopanan terjadi di kelas.
8.Melibatkan orangtua siswa dalam mengatasi perilaku tidak baik siswa dengan cara mengirimkan surat, memanggil orangtua atau melalui kunjungan ke rumah yang bersangkutan.
9.Memastikan bahwa siswa memiliki tanggungjawab moral untuk bekerja keras di sekolah.
10.Memiliki kata-kata di dinding yang mendorong karakter yang baik, misalnya “Jangan tungguuntuk menjadi orang yang hebat, mulailah sekarang juga !”.
11.Berusaha konsisten dalam memperlakukan siswa, jangan biarkan perasaan pribadi menghalangi seorang guru untuk bertindak adil.
12.Mengakui kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya.
13.Mengajarkan siswa mengenai kompetisi serta bantu siswa untuk mengerti kapan hal tersebut berguna dan kapan hal tersebut tak berguna.
14.Mengajarkan kesantunan secara jelas. Ajarkan kepada siswa begaimana mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian dan tidak memotong pembicaraan orang lain.
15.Melakukan kerja bakti bersama baik di kelas atau sekolah.
16.Menunjukkan penghargaan terhadap siapapun yang berbeda keyakinan dan berbeda budaya. Katakan kepada siswa mengenai kewajiban moral untuk bertindak adil terhadap orang lain.
17.Tekankan kepada siswa tentang pentingnya kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan.
18.Beri perhatian program-program tertentu di sekolah yang sarat muatan karakter, misalnya ‘bulan penghargaan tokoh karakter’.
19.Menekankan pentingnya sikap ksatria (tidak curang) dalam berolahraga, bermain, dan dalam berbagai bentuk interaksi dengan orang lain.

. Untuk dapat melaksanakan " pendikar" kita merujuk pada fungsi dan tujuan pendidikan karakter, seperti;
1. pengembangan: pengembangan potensi siswa untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi siswa yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa;
2. perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi siswa yang lebih bermartabat; dan
3. penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.
Sedangkan tujuan pendidikan karakter adalah:
1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif siswa sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
2. mengembangkan kebiasaan dan perilaku siswa yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
3. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab siswa sebagai generasi penerus bangsa;
4. mengembangkan kemampuan siswa menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa Kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan ( dignity) .

Apa perlunya  Nilai-nilai pendidikan karakter  dikembangkan di sekolah. nilai ini berlaku universal, karena dapat digunakan oleh seluruh siswa di Indonesia tanpa adanya diskriminasi terhadap pihak-pihak tertentu. Nilai-nilai ini bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.
1. Agama : masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
2. Pancasila : negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan Kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negata.

Nilai-nilai pendidikan karakter perlu dijabarkan sehingga diperoleh deskripsinya. Deskripsi beguna sebagai batasan atau tolok ukur ketercapain pelaksanaan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah. adapun deskripsi nilai-nilai pendidikan karakter adalah sebagai berikut.
Adapun penjelasan implementasi setiap aspek tersebut adalah sebagai berikut.

1. Kegiatan pembelajaran
Penerapan pendidikan karakter pada pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan strategi yang tepat. Strategi yang tepat adalah strategi yang menggunakan pendekatan kontekstual. Alasan penggunaan strategi kontekstual adalah bahwa strategi tersebut dapat mengajak siswa menghubungkan atau mengaitkan materi yang dipelajari dengan dunia nyata. Dengan dapat mengajak menghubungkan materi yang dipelajari dengan dunia nyata, berati siswa diharapkan dapat mencari hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan itu, siswa lebih memiliki hasil yang komprehensif tidak hanya pada tataran kognitif (olah pikir), tetapi pada tataran afektif (olah hati, rasa, dan karsa), serta psikomotor (olah raga).
Adapun beberapa strategi pembelajaran kontekstual antara lain
 (a) pembelajaran berbasis masalah, 
(b) pembelajaran kooperatif, 
(c) pembelajaran berbasis proyek, 
(d) pembelajaran pelayanan, dan 
(e) pembelajaran berbasis kerja. Puskur menjelaskan bahwa kelima strategi tersebut dapat
memberikan nurturant effect pengembangan karakter siswa, seperti: karakter cerdas, berpikir terbuka, tanggung jawab, rasa ingin tahu.

2. Pengembangan Budaya Sekolah dan Pusat Kegiatan Belajar
Pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan, pengkondisian.
 Adapun hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan rutin
kegiatan rutin merupakan kegiatan yang rutin atau ajeg dilakukan setiap saat. Kegiatan rutin dapat juga berarti kegiatan yang dilakukan siswa secara terus menerus dan konsisten setiap saat.
Beberapa contoh kegiatan rutin antara lain kegiatan upacara hari Senin, upacara besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan, piket kelas, shalat berjamaah, berbaris ketika masuk kelas, berdoa sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman.
b. Kegiatan spontan
Kegiatan spontan dapat juga disebut kegiatan insidental. Kegiatan ini dilakukan secara spontan tanpa perencanaan terlebih dahulu. Contoh kegiatan ini adalah mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana.
c. Keteladanan
Keteladanan merupakan sikap “ menjadi contoh ”. Sikap menjadi contoh merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan dan siswa dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi siswa lain Contoh kegiatan ini misalnya guru menjadi contoh pribadi yang bersih, rapi, ramah, dan supel.
d. Pengkondisian
Pengkondisian berkaitan dengan upaya sekolah untuk menata lingkungan fisik maupun nonfisik demi terciptanya suasana mendukung terlaksananya pendidikan karakter. Kegiatan menata lingkungan fisik misalnya adalah mengkondisikan toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang di lorong sekolah dan di dalam kelas.
Sedangkan pengkondisian lingkungan nonfisik misalnya mengelola konflik antar guru supaya tidak menjurus kepada perpecahan, atau bahkan menghilangkan konflik tersebut.

3. Kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikuler
Kegiatan ko dan ekstra kurikuler merupakan kegiatan-kegiatan di luar kegiatan pembelajaran. Meskipun di luar kegiatan pembelajaran, guru dapat juga mengintegrasikannya dalam pembelajaran. Kegiatan-kegiatan ini sebenarnya sudah mendukung pelaksanaan pendidikan karakter. Namun demikian tetap diperlukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang baik atau merevitalisasi kegiatan-kegiatan ko dan ekstra kurikuler tersebut agar dapat melaksanakan pendidikan karakter kepada siswa.

4. Kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat
Kegiatan ini merupakan kegiatan penunjang pendidikan karakter yang ada di sekolah. rumah (keluarga) dan masyarakat merupakan partner penting suksesnya pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah. pelaksanaan pendidikan karakter sebaik apapun, kalau tidak didukung oleh lingkungan keluarga dan masyarakat akan sia-sia. Dalam kegiatan ini, sekolah dapat mengupayakan terciptanya keselarasan antara karakter yang dikembangkan di sekolah dengan pembiasaan di rumah dan masyarakat.
Sumber puskur