Rabu, 01 Mei 2019

Seminar Pekan Pendidikan PBG Kudus 2 Mei 2019

Menghadapi Tantangan di Era Pendidikan 4.0
Dan Menjadi Guru Profesional di Era Digital Culture ”

Era revolusi industri 4.0 membawa  dampak positif dan negatif  pada dunia pendidikan. Era revolusi industri 4.0 atau disebut era disruption adalah era yang perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan pendidikan yang semakin kompleks dalam menghadapi permasalahan. Cepatnya pergerakan TIK dapat diamati secara jelas pada bidang bisnis, ekonomi dan juga pemerintahan dengan munculnya konsep dan aplikasi contohnya berupa e-goverment, e- commerce, e-community. Fenomena tersebut telah menggeser metode konvensional menjadi era digital yang memiliki dampak terhadap kehidupan, diantaranya: (1) bergesernya layanan konvensional  menjadi online; (2) menurunnya perusahaan ritel besar serta banyak digantikan oleh sistem online; (3) terbukanya kerjasama personal dengan sesama pengguna internet tanpa  batas negara; (4) adanya pergeseran sosial dalam pergaulan  masyarakat (phone snubbing) yaitu tindakan acuh tak acuh seseorang dalam lingkungan sosial.
Konsep revolusi industri ke empat dimulai sejak digunakannya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Vincent Gaspersz dalam Management System Lead Specialist konsep pendidikan 4.0 adalah sebagai berikut:
Dalam Pendidikan 4.0, mengharuskan guru berfungsi sebagai pemimpin team (team leader) dan fasilitator yang bekerjasama dengan peserta didik untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan didukung banyak sumber belajar berbasis internet (Artificial Intelligence Portals).
Dalam Pendidikan 4.0, Materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan praktek peserta didik yang bersumber dari berbagai portal internet (Artificial Intelligence Portals) tanpa perlu terikat pada buku-buku pedoman atau buku teks.
Dalam Pendidikan 4.0 merupakan Proses pembelajaran secara luwes dan terbuka untuk meningkatkan kreativitas peserta didik, membangun jaringan sosial melewati ruang-ruang kelas (Virtual Class) dan disiplin ilmu, pembelajaran adaptif yang dikendalikan oleh jaringan internet.
Dalam Pendidikan 4.0, Pembelajaran tidak lagi tergantung pada bangunan fisik karena aktivitas pembelajaran dilakukan secara luwes dan terbuka dengan mendapatkan pengetahuan tidak hanya dari guru di sekolah namun dapat diperoleh dari Nara sumber belajar lain.
Dalam Pendidikan 4.0 Peserta didik memiliki otonomi untuk menyusun rencana pembelajaran yang dibantu oleh guru sebagai penasehat, di mana rencana pembelajaran ini dapat diperbaharui secara terus-menerus melalui mekanisme adaptif.
Dalam pendidikan 4.0 Sistem manajemen e-learning dilakukan secara terintegrasi dengan banyak di dukung aplikasi Artificial Intelligence Portals

Dapat disimpulakan revolusi perangkat lunak telah mentransformasikan kegiatan ekonomi dengan sebagaian pekerjaan yang ada dan akan digantikan oleh otomatisasi dan ini  menuntut sistem pendidikan untuk turut berevolusi menyesuaikan diri dengan  perububahan pekembangan zaman. Perkembangan pendidikan di Indonesia mau tidak mau harus terus mengalami perkembangan khususnya di bidang ICT.  Pembelajaran 4.0 memiliki karakterikstik dalam mengembangkan  4C plus N, Literasi Baru, Artificial Intelegence, Heutagogy, Infinite Learning. Adapun strategi dan teknik pembelajaran 4.0 atau era society 5.0 adalah mengimplementasikan pembelajaran aurasma, STEM, Blended, hingga Hybrid learning dengan memanfaatkan media berbasis augumented reality dan virtual reality. Literasi baru  yang dikembangkan adalah literasi data, literasi teknologi dan literasi humanistik atau manusia dengan urusan kemanusiaan menjadi sangat penting dalam menghadapi kompleksitas era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0.  kemajuan teknologi menandakan majunya pendidikan dan ilmu pengetahuan yang tetap harus memartabatkan manusia dan mensejahterakan manusia. 
Diharapkan sebagai guru dapat meningkatkan kesadaran diri untuk bisa mengembangkan profesi guru dalam keaktifan intelektual yang memicu berbagai ide, kreatif inovatif, kolaboratif dan jati diri.  Semua  hasil inovasi yang dilakukan di era 4.0  tidak boleh menghilangkan karakter pembangunan yang menjadi agenda prioritas bersama yaitu  karakter manusia yang dibangun bercirikan dengan kemampuan menegakkan kebenaran, kejujuran keadilan, kebajikan tanggung jawab dan cinta tanah air  dalam mewujudkan karakter sumber daya manusia yang kuat disertai dengan mental yang tangguh untuk meningkatkan mutu pendidikan yang bisa mensinergiskan antara kepentingan pengembangan kompetensi guru ke arah yang lebih baik. Guru dapat melakukan pengembangan profesi dengan mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kompetemsi guru itu sendiri sebagai wujud  guru pembelajar sepanjang hayat lifelong learning dan dapat diimplemtasikan di kehidupan dimasa sekarang dan akan datang  Era revolusi industri 4.0 tidak mungkin lagi dibendung karena begitu cepatnya arus informasi. Oleh karena itu, langkah utama yang harus dilakukan oleh guru adalah guru harus memiliki sikap open minded atau terbuka terhadap perubahan. Guru perlu bersikap bijak dalam pembelajaran karena peserta didik pun sudah berubah. Guru tidak dapat memaksakan model pembelajaran konvensional seperti era guru dahulu. Guru tidak perlu lagi mempermasalahkan mana yang positif dan mana yang negatif, tapi justru senantiasa berusaha memaksimalkan aspek positif dan meminimalkan aspek negatif dari revolusi industri 4.0 By. Eni Kuswati

Jumat, 12 April 2019

Perkembangan edukasi

Perkembangan Sistem pendidikan di Indonesia  mempraktekkan  pembelajaran dari
Tahap Education 1.0 (Pedagogy: pembelajaran yang dikhususkan utk anak kecil/children’s learning); yang sepenuhnya blm dapat  memahami proses transformasi menuju  Tahap Education 2.0 (Andragogy: pembelajaran untuk  orang dewasa/adults learning) dan Education 3.0 (Andragogy: pembelajaran orang dewasa yang menggunakan mobile learning) sekarang sdg di cobakan untuk langsung mencoba bergerak membahas Education 4.0 (Heutagogy: Self-determined learning) karena mau tidak mau saat ini dunia telah memasuki Era Revolusi Industri 4.0.
Maka pembelajaranpun  berbasis learning 4.0.
Saya mencobakan utk mengikuti lompatan tersebut dan akan di ujicobakan pada siswa saya... Dan hasilnya baru setengah jalan sdh cukup baik.  Bagaimana plan learning 4.0. Utk siswa anda ?
Coming soon workshop Pbg Kudus di pertengahan tahun 2019
Eni Kuswati Subana

Virtual Reality in era society 5.0 learning

VR dan manfaatnyaa..

Perangkat VR ber headset berbentuk seperti kacamata selam, namun dengan lensa tertutup. Bagian yang seperti kacamata selam ini dinamakan sebagai VR box, yang merupakan tempat untuk meletakkan smartphone yang berfungsi memproyeksikan gambar virtual. VR yang menggunakan smartphone ini merupakan perangkat VR versi standar.

Versi lain yang lebih tinggi adalah VR headset yang sudah menggunakan teknologi canggih, di dalamnya bukan lagi menggunakan smartphone, melainkan sudah terdapat sebuah layar yang menampilkan video dan gambar virtual reality yang juga bisa terhubung dengan komputer menggunakan bluetooth. Juga dilengkapi dengan headphone untuk menambah efek suara, serta perangkat di bagian tangan (joystick) yang tersambung dengan VR headset untuk lebih menambah interaksi  pengguna yang dapat merasakan sendiri bahwa realitas di sekelilingnya menghilang dan berganti masuk ke dalam dunia virtual. VR Op Menghasilkan gambar tiga dimensi yang membuat pengguna seolah merasakan dunia virtual tersebut benar-benar ada di hadapannya. pengguna dapat melihat gambar virtual dengan sudut pandang tak terbatas : ke samping, belakang, atas, bawah, hingga 360 derajat.

Virtual reality memiliki beberapa manfaat bagi pendidikan, antara lain

*Teknologi yang menggunakan grafik 3 dimensi, sehingga seakan-akanpengguna merasakan sensasi berinteraksi dengan lingkungan nyata

*Membantu siswa memvisualisasikan materi-materi pembelajaran abstrakmenjadi lebih mudah untuk dipahami

*Sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan.

Meningkatkan minat siswa dalam proses pembelajaran

*Meningkatkan motivasi belajar siswa*Membantu siswa dalam melakukan praktikum

*Bagi guru,  virtual reality dapat dijadikan perantara untuk mempermudah dalam hal penyampaian materi, serta dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang dapat meningkatkan efektivitas belajar siswa.

By ekle
Pbg Kudus
Eni Kuswati Subana

Heutagogy ( self determined learning)

"Bukan ilmu yang harus datang kepadamu, tapi engkaulah yang seharusnya datang menjemput ilmu."

Fenomena yang terjadi banyak sekali dalam kegiatan seperti seminar. Workshop dan  jenis diklat lainnya tentang pebelajaran era 4.0  namun Konsekuensi logis TIDAK ADA satu kata antara konsep (teori) dan praktek (aksi nyata). Membicarakan tentang pendidikan modern TETAPI tetap kembali mempraktekkan pendidikan manual based.

Padahal di era pembelajaran saat ini sudah tdk lagi pembelajar aktif mentransfer  ilmu pada  pebelajar tetapi sebaliknya.  Walaupun pendekatan  pembelajaran untuk jenjang dasar  dan menengah adalah pedagogik dan andragogik namun saat ini perlu di kenalkan pendekatan  Heutagogi. Hetagogyk  menawarkan kolaborasi aktif (double hands) untuk menentukan pembelajaran, meliputi konten apa yang tepat untuk dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya dan bagaimana bentuk penilaian yang akan digunakan untuk membuktikan bahwa suatu kompetensi baik pengetahuan maupun keterampilan sudah berhasil dikuasai dengan baik.

Pendekatan heutagogy baik  Learner dan teacher saling bertukar pikir tentang apa yang pas untuk dipelajari oleh pebelajar dan bagaimana cara membelajarkannya atau langkah-langkah pembelajaran dan sumber-sumber belajar apa yang digunakan untuk mencapai tujuan belajar yang sudah ditentukan tersebut. Dengan kata lain posisi pembelajar lebih sebagai katalisator,  motivator,  fasilitator atau mediator,  serta  konsultan pembelajaran.

Ketika Heutagogi menjadi sangat menarik untuk diimplementasikan, mengingat cara pandang yang diajukannya tentang pebelajar sebagai agen pembelajar aktif (active agent) yang memiliki kebebasan untuk menetukan sendiri belajarnya atau yang disebut self determined  learning. 

Hal ini agak sedikit berbeda dengan konsep yang ditawarkan pembelajaran konstruktif (Constructive Learning), meskipun sama cara pandamg  bahwa pebelajar adalah individu yang aktif (aktive learning)   yang mampu merekonstruksi pengetahuannya sendiri  melalui keaktifannya dalam proses pembelajaran.

Dalam pembelajaran konstruktif, yang  fokus utamanya sama dengan pembelajaran heutagogi, yaitu pada belajarnya pebelajar, bukan pada mengajarnya pembelajar, namun dalam pembelajaran konstruktif pebelajar masih kurang memiliki kebebasan dalam menetukan apa yang harus dipelajari, bagaimana mempelajari dan bagaimana mengukur dan menunjukkan bukti bahwa ia sudah menguasai suatu kompetensi tertentu tersebut yang semuanya masih  ditentukan oleh pembelajar  atau pada apa yang sudah disediakan sebagai satu-satunya pilihan.

Hanya saja dalam prosesnya pebelajar lebih diberikan kebebasan untuk aktif merekonstruksi pengetahuannya dengan melakukan beragam aktivitas pembelajaran, tidak hanya sekedar pasif menunggu dijelaskan oleh pembelajar.

Sedangkan konsep yang ditawarkan heutagogi, pebelajar diberikan kebebasan sejak awal untuk menentukan tentang apa yang akan dipelajari, bagaimana membelajari dan bagaimana membuktikan bahwa apa yang dipelajarinya tersebut sudah dikuasainya, meskipun dalam menetukan tersebut masih ada keterlibatan pembelajar (teacher) sebagai  konsultan belajarnya.

Namun, yang perlu untuk digarisbawahi bahwa dalam praktiknya heutagogi lebih menekankan pada tingkat kemandirian (higher level of autonomy) dan kematangan pebelajar dalam belajarnya, sebagaimana dijelaskan Blashcke (2012) bahwa tingkat kematangan belajar pebelajar (the learners maturity) memberikan pengaruh pada kebutuhan pendampingan belajarnya, yaitu semakin matang seseorang dalam hal kemandirian belajarnya, maka persentase kontrol pembelajar  harus semakin dikurangi.

Kesuksesan penerapan heutagogi hanya akan maksimal jika target belajarnya memiliki tingkat kemandirian dan kematangan belajar yang cukup tinggi yaitu memiliki visi belajar yang jelas, memiliki pemahaman yang baik tentang kecenderungan belajar dan gaya belajar (metacognitive skill) yang dimiliki.

Jika kesadaran penelajar minim maka ia akan kesulitan untuk menentukan (determine) tentang apa yang seharusnya  di pelajari dan bagaimana cara mempelajarinya serta bagaimana harus membuktikan bahwa ia telah menguasainya. Disisi lain Heutagogi  juga memprioritaskan pada tingkat peningkatan kapasitas dan kapabilitas kompetensi yg dipilihnya.   Kurangnya kemampuan dan kesadaran untuk memahami tujuan hidup, kecenderungan belajar dan gaya belajar yang dimiliki secara tidak langsung menghambat usaha-usaha dalam pengembangan diri, baik kepribadian, kompetensi serta kapasitas dan kapabilitas pribadi.

Output yang ingin dihasilkan dari penerapan heutagogi ini adalah generasi-generasi yang memiliki kompetensi tertentu dengan kapasitas mengembangkan dan kapabilitas menerapkannya pada berbagai situasi dan kondisi dilapangan yang selalu berubah dan berkembang atau dengan istilah lain generasi long life leaner.

Maka dalam  pendidikan 4.0  diarahkan pada penerapan heutagogi, maka kemampuan metakognitif, kemampuan memahami dan merumuskan visi ke depan harus mulai diajarkan sejak tingkat pendidikan awal.

Tidak sedikit generasi muda kita hari ini yang masih belum menentukan apa yang ingin dicapainya di masa depan atau tidak tahu sama sekali apa yang harus dicapai dan dilakukannya di masa depan. Meskipun memang, heutagogi masih belum cocok untuk diterapkan disemua bidang keilmuan, karena berpotensi menimbulkan kekacauan dalam hal penguasaan suatu keahlian tertentu. Heutagogi juga masih belum menemukan formulanya yang tepat untuk diterapkan pada jenjang pendidikan  awal. Inilah mungkin tantangan dalam penerapan heutagogi ke depan, yaitu menemukan dan memastikan suatu formula yang tepat untuk diterapkan pada semua jenjang pendidikan dan semua bidang kajian.
 
Tantangan dan bagainana penerapan heutagogy dalam  Education 4.0 itu. Menjadi pertanyaan apakah sistem pendidikan Indonesia telah siap di Era Education 4.0 itu?

jawabannya mari kita belajar bersama di Pusat Belajar Guru Kudus.

Pbg Kudus
PBG dari guru,  oleh dan untuk guru.
be smart inovasion teacher  for briliant students.

#Eni Kuswati & Eni Kuswati Subana

Selasa, 16 Januari 2018

SISTEM MANAJEMEN DALAM ORGANISASI FORUM GURU

Secara terminologi, sistem dipakai dalam berbagai macam cara yang luas sehingga sangat sulit untuk mendefinisikan atau mengartikannya sebagai suatu pernyataan yang merangkum seluruh penggunaannya dan yang cukup ringkas untuk dapat memenuhi apa yang menjadi maksudnya Hal tersebut disebabkan bahwa pengertian sistem itu bergantung dari latar belakang mengenai cara pandang orang yang mencoba untuk mendefinisikannya. Semisal, menurut hukum bahwa Sistem dipandang sebagai suatu kumpulan aturan-aturan yang membatasi, baik dari kapasitas sistem itu sendiri maupun lingkungan dimana sistem itu sedang berada untuk memberikan jaminan keadilan dan keserasian. Sedangkan managemen yaitu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengendalian / pengawasan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan melalui pemanfaatan SDM dan sumber daya lainnya. Jadi sistem manajemen dalam organisasi forum guru  merupakan suatu jaringan dari beberapa prosedur yang saling memiliki keterkaitan satu sama lain berdasarkan pola atau skema yang bulat sebagai serangkaian proses untk merencanakan, mengorganisasikan, menggerakan atau mengendalikan/ mengawasi usaha agar tercapai suatu tujuan secara efektif dan efisien. Dan sukses tidaknya seorang pemimpin melaksanakan tugas kepemimpinannya,  tidak  terutama   ditentukan  oleh  tingkat keterampilan tehnis (technical skills) yang dimiliknya, akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh keahliannya menggerakkan orang lain untuk bekerja dengan baik (managerial skills).

ORGANISASI SEMI VIRTUAL DALAM MENYONGSONG GENERASI EMAS 2025

ORGANISASI SEMI VIRTUAL DALAM MENYONGSONG GENERASI EMAS 2025 “Think Globally Act Locally”

Di era globalisasi seperti sekarang ini, kehadiran Forum Guru  sangat penting perannya sebagai “wadah” pemersatu guru IPS seluruh Indonesia. Kehadiran Forum Guru IPS Seluruh Indonesia (FOGIPSI) yang memiliki legalitas formal dengan sk kemenkumham  Nomor AHU-0044226.AH.01.07 tahun 2016 ditetapkan di Jakarta 11 april 2016. FOGIPSI  sebagai forum guru IPS yang telah disaksikan pengukuhannya oleh mantan Dirjen GTK kemendikbud Bapak Sumarna supranata beserta staff GTK di gedung kemendikbud pada bulan januari 2017 ini diharapkan menjadi sarana memperoleh kecepatan informasi dan komunikasi serta peningkatan profesionalisme antara sesama pengurus dan anggotanya baik pengurus pusat, pengurus wilayah maupun pengurus kota atau kabupaten. yang akan menjaga dan melestarikan budaya lokal sebagai landasan dalam menghadapi era digital, era globalisasi dan implementasi kecakapan abad 21.

Melalui FOGIPSI ini juga diharapkan para anggota dapat saling bertemu, belajar dan berbagi pengalaman tentang pembelajaran IPS di sekolah masing-masing, dengan motto "Membangun (3K): Konektifitas, Komitmen dan Kompetensi",
Dengan visi “menjadi wadah pemersatu guru IPS seluruh Indonesia yang sinergis kompeten, komitmen, dan konektifitas tahun 2025” adapun misi FOGIPSI  yaitu Membangun jejaring guru IPS seluruh Indonesia melalui lembaga profesi tingkat pusat sampai daerah, melalui sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi; meningkatkan kompetensi guru melalui diklat berkelanjutan berskala pusat dan daerah dan membangun komitmen atas dasar profesionalisme dan jiwa NKRI.

Fogipsi Sebagai organisasi “semi virtual “Sasaran kegiatan utama fogipsi adalah 1)  Menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), Training Of  Trainer (TOT),  Workshop, Seminar, 2)Membangun Network dengan forum MGMP IPS seluruh Indonesia, Dinas Pendidikan setempat, LPMP, P4TK IPS dan Direktorat teknis Kemdikbud, serta membangun konektivitas denagn luar negeri 3)Memperjuangkan Laboraturium IPS disetiap sekolah SMP/MTs untuk memfasilitasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, 4)Mengadakan kegiatan Karya Ilmiah, Karya Inovatif dan Publikasi Ilmiah dalam bentuk Buku atau Jurnal, 5) Mengadakan kegiatan peningkatan mutu pendidikan  Siswa/Guru yang kreatif, Inovatif, Inspriratif dan Kompetitif.

Tujuan berdirinya forum ini Menciptakan konektifitas seluruh guru IPS di Wilayah Indonesia, memelihara dan mengembangkan potensi – potensi yang dimiliki oleh guru, peserta didik dan masyarakat dalam menyongsong generasi emas 2025 serta menciptakan masyarakat yang sejahtera; menggalang potensi untuk memberikan kontribusi pada pembangunan baik yang bersifat Sumber Daya Manusia maupun infrastrukur dalam mengembangkan pembelajaran IPS  masing – masing daerah di seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dikatakan organisasi semi virtual karena dalam berdiskusi untuk saling berbagi, yamg terwujud dalam bentuk pengembangan diri,  untuk saling membangun yang kemudian memunculkan ide-ide atau gagasan yang be inspiring, be creating and be inovating yg terwujud dalam sebuah karya-karya ilmiah sebagian melalui media sosial.
Fogipsi memberikan kesempatan kepada siapapun guru untuk ikut seminar, diklat, workshop tanpa memandang jabatan. FOGIPSI pun terus tumbuh dan berkembang bersama jaringan media sosial seperti milis, facebook, blog, whatapps, telegram, Vicom, kelas maya serta messengger dan sebagainya sehingga FOGIPSI menjadi wadah guru untuk berdiskusi, berbagi dan saling menumbuhkembangkan potensi yang dimilki. Kini wadahnya semakin tak terbatas oleh ruang dan waktu, kemudian FOGIPSI lahir dimana-mana, lahir dari bawah, lahir dari hati sanubari guru-guru Indonesia. Oase yang dulu kecil itu, kini telah berubah menjadi danau yang luas bahkan mungkin sudah mulai menjadi lautan luas. Harapan pun semakin besar bahkan FOGIPSI diharapkan bisa menuntaskan dan memperjuangkan semua masalah yang dihadapi oleh guru –guru terutama di daerah 3T yang sangat kekurangan fasilitas atau sarana pra sarana mengajar. 

Konseptor FOGIPSI sejak lahir menasbihkan diri sebagai organisasi profesi guru yang konsen pada peningkatan kompetensi guru dan dapat menginspirasi guru-guru lainnya untuk bergerak maju demi pendidikan serta  membangun kekuatan yang akan mengembalikan martabat dan kesejahteraan guru serta memajukan pendidikan dan peningkatan kualitas moral intelektual guru.

Jumat, 08 Desember 2017

MATA UANG VIRTUAL vs UU_COMMERCE


MATA UANG VIRTUAL VS UU e_COMMERCE

Salah satu mata uang virtual bitcoin sudah diperkanalkan  sejak  2009, mata uang unik ini mulai digunakan oleh sebagian pelaku e-commerce di dunia. 

BitCoin adalah sebuah mata uang virtual yang dapat digunakan untuk bertransaksi online. Bentuk mata uang bitcoin tidak seperti mata uang yang bentuk fisiknya seperti uang kartal atau logam. Bentuk dari mata uang unik ini adalah hanya sebuah file layaknya file-file umum biasa.
File tersebut merupakan enskripsi dari kode-kode unik yang menjadikannya tak sama satu dengan yang lain. Dan seperti file mp3 atau word yang terdapat pada perangkat komputer. File BitCoin juga dapat disimpan dalam komputer atau sebuah flash disk atau software yang dinamakan BitCoin Digital Wallet. Selain itu BitCoin juga dapat di simpan di jasa penyimpanan BitCoin di Internet yang berbentuk layaknya sosial cloud.

Bitcoin ini merupakan penemuam seorang ahli komputer Satoshi Nakamoto asal Jepang mengembangkan BitCoin sejak tahun 2007 dan akhirnya menyebar hingga saat ini. satoshi  mencoba mengembangkan sistem mata uang virtual model baru yang sama sekali tidak terikat oleh pihak pemerintah atau lembaga keuangan lainnya. 
Mata uang BitCoin memang merupakan hasil dari perkembangan dunia teknologi ecommerce yang tumbuh terlalu massif.
Namun ada beberapa ahli yang menyatakan bahwa sang penemu tersebut adalah nama fiktif dan tidak ada secara nyata orang dengan nama tersebut. Ada sebagian ahli yang menyatakan bahwa mata uang BitCoin merupakan sesuatu yang dibuat oleh seseorang atau kelompok orang yang memang ingin membuat persepsi baru dalam dunia transaksi online. Dan tujuan utamanya tentu saja untuk mengambil keuntungan.

Saat ini BitCoin sudah tersebar hampir di seluruh penjuru dunia.  Cina dan singapura menolak penggunaan mata uang BitCoin sebagai alat transaksi online yang sah  karena sifatnya yang tidak aman.
Di Indonesia  Bank Indonesia selaku bank central  pun secara tegas melarang perbankan dan lembaga jasa keuangan lainnya memproses transaksi keuangan yang menggunakan sistem pembayaran mata uang virtual (virtual currency), dalam hal ini Bitcoin karena melanggar undang_undang. Dalam UU yang terkat dengan mata uang, hanya rupiah yang diakui sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia. Dengan demikian keberadaan mata uang virtual tidak diakui dan transaksi yang menggunakannya dianggap ilegal. Masyarakat dilarang untuk memproses, baik bank dan (lembaga keuangan) lainnya dari adanya (transaksi) virtual currency.

Mengenai nilai BitCoin, jika di-kurs-kan dengan nilai dolas AS, beberapa pihak menyatakan bahwa saat ini nilai 1 BitCoin atau 1B (symbol BitCoin) senilai dengan $195 dolar. Namun nilai tersebut akan terus berubah sesuai dengan keberadaan jumlah BitCoin yang ada saat ini. Hingga saat ini diperkirakan sudah terdapat 21 juta BitCoin yang bertambah 25 BitCoin permenitnya diseluruh dunia.

Namun kenyataaanya  masyarakat yang menggunakan Bitcoin cukup banyak maka Bank indonesia  selaku regulator sendiri telah melarang masyarakat agar tidak berinvestasi dengan mata uang digital, namun memilih produk investasi lain yang lebih sehat dan dijamin.
Belum ada izin peredaran Bitcoi.di indonesia.  masyarakat khususnya investor menghendaki keinginan Bitcoin agar bisa diperlakukan sebagai komoditas, seperti emas.
Diijinkan atau tidaknya mata uang digital dan investasi dalam mata uang bitcoin merupakan wewenang Bank Indonesia dan otorotas jasa keuangan laimnya. Melihat kenyataan bahwa mata uang digital atau virtual bukan suatu mata uang yang terpercaya terhadap mata uang yang formal di Indonesia.
Hal ini perlu ditegaskan pemerintah atau .OJK adalah menegaskan  apakah badan atau produk mata uang digital memang aman bagi investasi bagi masyarakat dan tidak merugikan masyarakat?

Salah satu  CEO Bitcoin Indonesia pun menyadari bahwa  memang mata uang digital belum memiliki aturan di Indonesia.
Kesalahan mengapa mata uang digital marak diperjual belikan  CEO Bitcoin  karena tidak ada laramgan memgenai cryptocurrency (mata uang digital), kecuali pengganti alat pembayaran. PJSP (Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran) dilarang memproses bitcoin sebagai alat transaksi pembayaran.

Alasan CEO  Bitcoim digunakan karenabitcoin seperti emas dan  nilainya sama-sama nol, suplainya terbatas, ada kegunaannya, tercipta sebuah harga.
Selain itu bitcoin jadi sarana untuk mencari capital gain(margin keuntungan).

Kelebihan dari BitCoin sebagai alat pembayaran adalah
1. sifatnya yang simple dan ringkas.
2. BitCoin merupakan alat transaksi orang per orang dan hanya orang yang memegangnya yang bisa menggunakannya.
3.  dalam pengunaan tidak  perlu menyertakan informasi pribadinya seperti pada mata uang bank atau akun transaksi online lain.
4. Tidak perlu informasi dari pemilik bitcoin

Sedangkan Kelemahan bitcoin:
1. bentuknya yang hanya berupa file, memungkinkan BitCoin menjadi rusak/ hilang/ terhapus jika terjadi sesuatu dengan perangkat tempat kita menyimpan BitCoin tersebut.
2.bitcoin karena penggunaan Bitcoin  diklaim berpotensi digunakan dalam tindak kejahatan, seperti melakukan pembelian kartu kredit milik orang.
3.  BitCoin merupakan sebuah alat transaksi yang hadir karena ada kemauan dan kepercayaan dari para penggunaya. Hal ini memungkinkan suatu saat BitCoin bisa benar-benar tidak bernilai karena sudah tidak ada yang mau menggunakan mata uang tersebut.